Kamis, 09 Mei 2019
Lain kali akan kuceritakan bagaimana aku
bisa sampai di Bandung.
Saat itu aku meyakini bahwa kepergianku ke
Bandung adalah untuk mengikuti panggilan Tuhan di dalam hidupku. Banyak hal
yang aku dapatkan, kesempatan demi kesempatan yang belum bahkan tak pernah aku
dapatkan di Samarinda.
aku mengenal banyak sekali orang-orang yang memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan melalui pekerjaannya, melalui keluarganya, melalui banyak hal. Hidup mereka diabdikan untuk bersekutu di dalam Tuhan.
Bahkan aku bergabung dalam persekutuan mahasiswa kristen pascasarjana (PMK Pasca) dan pendalaman Alkitab (PA) yang dibimbing oleh salah satu dosen ITB. Saat itu sedang ada kecelakaan pesawat Lion Air, dimana pesawat tersebut baru saja take-off kurang lebih 15 menit dan akhirnya meledak sehingga menewaskan seluruh penumpang yang ada di dalam pesawat.
Pembimbing PA ku adalah salah satu dosen
di FTMD ITB, akibat kejadian Lion Air tersebut beliau dipanggil ke Jakarta untuk
menjadi tim investigasi. Kami punya jadwal PA setiap hari Kamis sore, sedangkan
beliau harus ke Jakarta dari hari selasa – jumat (saat itu kami tidak tau).
Beliau bela-belain untuk balik ke Bandung hanya karena kesepakatan PA di hari
Kamis. Saat beliau bela-belain untuk datang ke Bandung, justru kami (5 orang)
tidak datang PA dengan alasan sibuk. Sungguh miris bukan??
Jika bisa dikatakan, beliau sudah Dosen
PNS di universitas favorit, hidup berkecukupan, dikenal banyak orang, punya
banyak kesibukan. Padahal bisa saja beliau mengatakan “saya sibuk, tidak ada PA
di minggu ini”, tetapi beliau tidak memilih itu. Beliau tidak memberikan banyak
alasan dalam melayani Tuhan, tidak juga menyinggung kedudukannya atau
kesibukannya dalam melayani Tuhan. Beliau melayani Tuhan bukan dengan sisa-sisa
waktu, yaitu setelah segala urusan selesai tetapi memberikan waktu khusus dan
bertanggung jawab dalam melaksanakannya.
Sudah bisa kalian bayangkan kan bagaimana aku dikelilingi oleh orang-orang yang begitu rohani dan inspiratif? Jika orang bijak mengatakan, bergaulah dengan orang baik supaya kamu ketularan (mengikuti) menjadi orang baik, maka aku sedang dalam tahap itu.
Lalu, apakah aku ketularan menjadi orang
baik seperti dosen PA ku? tidak!
Hidup disini, sekolah terbaik adalah hal
yang paling susah untuk kuseimbangkan. Aku merasa bahwa aku bisa lulus di ITB
adalah mukjizat Tuhan, tapi untuk menyelesaikan step by step perkuliahan disini
harus butuh usaha, ga bisa hanya mengandalkan mukjizat tanpa usaha. Semakin
hari bertemu orang demi orang, aku semakin melihat kekuranganku, ketidaklayakanku,
kebodohanku, ketidakmampuanku.
Aku mengutuki diriku dengan begitu hebat,
mengutuki setiap dia tidak mengerti tentang pelajaran, tentang tugas-tugas yang
tak mampu kuselesaikan, tentang nilai-nilai yang buruk. Aku memandang diriku
bisa bertahan di ITB karena belas kasihan, aku hidup hanya untuk dikasihani
terus menerus, tidak ada usaha yang baik bisa kuberikan. Setiap aku bertatapan,
kemudian saling menyapa, yang ada di otakku adalah orang tersebut mau
bertatapan atau menegurku pasti karena kasihan.
Aku hancur perlahan tapi pasti dan aku enggan untuk percaya kepada Tuhan bahkan enggan untuk datang kepada-Nya di dalam doa. Apakah aku harus meminta belas kasihan-Nya lagi? lalu kapan aku mampu kalau aku terus dikasihani melulu?!
Aku hancur perlahan tapi pasti dan aku enggan untuk percaya kepada Tuhan bahkan enggan untuk datang kepada-Nya di dalam doa. Apakah aku harus meminta belas kasihan-Nya lagi? lalu kapan aku mampu kalau aku terus dikasihani melulu?!
aku pergi gereja, pergi ibadah, pergi persekutuan hanyalah ritual karena aku dikelilingi oleh “orang-orang rohani”, aku malu kepada mereka jika aku tidak melakukan “ritual” tersebut. Aku menjadi seseorang yang palsu hari demi hari. Dan Ini adalah masa-masa terburuk dalam hidupku.
No comments:
Post a Comment