Rabu, 08 Mei 2019
Tak peduli dengan detik-detik yang berlalu
pun dengan cahaya langit yang terus
berganti warna
dia masih disana..
terkurung dalam pikiran,
melekat dalam jiwa,
melilit ragaku hingga tak mampu menyambut
hari.
selayaknya benang kusut yang ingin ditutupi,
akupun demikian ingin menutupinya dengan
berbagai cara.
dengan ratusan senyum semu,
dengan kata-kata meyakinkan,
bahkan dengan mata yang berbinar.
"Oh hentikanlah. Kumohon hentikanlah
berpura-pura!" Jiwaku berseru
"lalu, apa mereka peduli dengan
benang kusutmu?!" pikiran ku mengusik.
jiwaku bergeming, tidak mendapatkan jawaban.
"pangkaslah dan musnahkan benang kusutmu itu, tidak ada guna!" pikiranku mulai menyerang.
"ya seharusnya memang begitu" diam-diam
jiwaku menuruti
"baiklah" akhirnya diputuskan.
"baiklah" akhirnya diputuskan.
Dan...
senyum itu tetap semu,
senyum itu tetap semu,
kata demi kata itu tak lagi memiliki arti.
Aku seperti orang yang buta dan tuli,
merusak setiap sekat jiwa,
yang akhirnya menggerogoti ragaku.
akhirnya aku tahu..
mencintai diri adalah sebuah keputusan
untuk menerima diri apa adanya bahkan dengan benang kusutmu sekalipun.
walaupun kusut, dia adalah dirimu.
No comments:
Post a Comment